Oleh: Ahmad ARAFAT Aminullah (Ketua Umum PP PRIMA DMI)

Jakarta, 10 Januari 2021 – 9 Januari 2021 PP PRIMA DMI PAMASTHA dan GO HIJRAH kembali berkolaborasi apik dan menggelar event Bersama bertajuk: WEBINAR INTERNASIONAL kedua, “KRISIS UYGHUR; Antara Mitos dan Fakta, Antara Isu Agama Ataukah Aneksasi?”

Tajuk webinar secara daring melalui platform Zoom dan Live Streaming ini menghadirkan beberapa tokoh pembicara: Irfan Junaidi (PEMRED REPUBLIKA), Ismail Fahmi (Founder Drone Emprit/Analis Sosial Media), Ahmad Arafat Aminullah (Ketua Umum PP PRIMA DMI), Mr. Nury Turkel (Attorney, Board of Chairman UHRP), dan Ms. Sayida Ali (Uyghur Diaspora, Activist, Software Engineer). Acara ini dipandu oleh MC: Eka Maylinda dan dimoderatori oleh: Sara Enggar.

Pengantar

Sejarah selalu dipenuhi oleh tidak hanya kisah kisah epik heroisme, kejayaan maupun kemajuan peradaban. Sejarah juga senantiasa berisi kisah pilu penderitaan, penindasan, perjuangan meraih kemerdekaan dan pengorbanan jiwa raga dalam perjalanan hidup anak manusia ataupun sebuah bangsa. Sejarah Mesir kuno, misalnya, menunjukkan bahwa di samping tingginya puncak kemajuan peradaban yang ditunjukkan oleh megahnya bangunan Piramida Giza ataupun Kuil-Kuil Persembahan, di baliknya tersimpan kisah pilu perbudakan, penindasan dan penderitaan berkepanjangan. Gelombang rejim yang angkuh menghadirkan intimidasi, diskriminasi dan terror bagi mereka yang lemah, marjinal dan menjadi sasaran.

Dalam sejarah peradaban umat manusia, umat Islam merupakan salah satu umat yang paling sering mengalami ujian krisis kemanusiaan. Konflik antarbangsa/sektarian, perebutan rezim kekuasaan, kolonialisasi/invasi, hingga konflik maupun teror yang memakan korban jiwa dalam berbagai wujudnya. Hal ini sebagaimana melanda umat Islam di Timur Tengah (Palestina, Suriah), Afrika, Benua Eropa, hingga ke Asia (Myanmar, Filipina, dan China). Sejak beberapa tahun terakhir, mengemuka narasi dan ragam pemberitaan mengenai krisis kemanusiaan dan juga isu genosida kultural terhadap masyarakat Uyghur / East Turkmenistan yang menjadi bagian wilayah Xinjiang di China (RRT). Isu-isu tentang kamp deradikalisasi, penculikan dan penangkapan, penghilangan identitas keagamaan dan brainwash kebudayaan serta isu penghancuran masjid di daerah Xinjiang tempat domisili kaum muslim Uyghur terus berhembus dan mengundang aneka ragam pertanyaan juga keingintahuan masyarakat muslim Indonesia.

Sebagai bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia, isu dinamika Islam internasional apalagi krisis kemanusiaan yang ditengarai terjadi, senantiasa mengundang simpati, aksi solidaritas maupun menaikkan tensi atau sentimen publik. Di sisi lain, segala sentimen terkait isu ke-China-an juga mampu menyedot emosi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Berbicara mengenai isu seputar Uyghur terdapat hal-hal yang jika tidak diklarifikasi dan dijelaskan dengan transparan serta objektif, maka akan mengundang reaksi umat Islam dengan potensi sentimen negatifnya.

Oleh karena itu, diperlukan forum bersama yang bersifat dialogis, akademis, mutualistis dan konstruktif dalam menjelaskan duduk perkara dan substansi masalah yang dihadapi untuk memberikan pencerahan dan penjelasan kepada publik tentang apa yang terjadi.

Secara khusus, urgensi pengetengahan isu ini untuk diangkat di tengah-tengah publik masyarakat muslim Indonesia secara luas bertujuan untuk memberikan edukasi, memaparkan tinjauan masalah secara kritis-analitis serta mengetengahkan spirit kepedulian umat Islam, dalam kolaborasi, kooperasi serta dalam kerangka bertabayyun terhadap mereka yang lebih mengetahui apa yang sedang terjadi di Xinjiang pada jutaan umat muslim Uyghur.

Inisiatif mengangkat isu ini juga merupakan wujud kepedulian dan loyalitas kita kepada umat Islam di belahan dunia manapun yang sedang tertindas, mengalami krisis kemanusiaan, dan agar kita dapat menjadi agen penggerak untuk mendorong terjadinya dialog peradaban, kerjasama antar masyarakat menuju perdamaian dunia berdasarkan toleransi dan saling menghormati juga menghargai.

PANDANGAN DAN PERNYATAAN SIKAP
MANUSIA adalah UMMAT YANG SATU

(kanannaasa ummatan wahidah…)

1. Marcel Boisard menyatakan bahwa “istilah (ummat) itu menunjukkan [adanya] hubungan yang erat antara urusan spiritual dan duniawiyah”.

2. Sesungguhnya setiap individu manusia adalah unik karena setiap manusia memiliki dimensi kebathinan (jiwa), ciri fisik (berdasarkan ras/etnis) dan tabiat kecenderungannya masing-masing. Perjalanan kehidupan Ummat manusia kemudian berkembang sejalan perguliran waktu, pergantian peradaban dan perubahan (disrupsi) kehidupan.

Namun seringkali, manusia sebagai “UMMAT yang (seharusnya) ber-SATU” menjadi terpecah-pecah, bertikai dan berkonflik satu sama lain – dengan berbagai sebab, latar belakang dan tujuannya. Peperangan, kolonialisme, penjajahan dan penindasan serta ketidakadilan masih menjadi warna dalam babad kehidupan umat manusia yang relatif singkat di dunia ini.

Yaa ayyuhannasu inna khalaqnakum min zakarin wa untsa, wa ja’alnakum syuuban wa qabaila lita’arafu

3. Ketakutan, konflik dan pertikaian datang dari kegagalan kita untuk

LITA’ARAFUW (untuk saling mengenali dan memahami) satu sama lainnya. Inilah resep Qurani

bagi seluruh manusia (YAA AYYUHANNAAS), bahwasanya kita semua, berbagai macam manusia beragam sukubangsa, bahasa, teritori dan agama haruslah berupaya maksimal untuk SALING MENGENALI satu sama lain. Pertanyaannya, mengapakah kisah pilu dan tragedi kemanusiaan yang ditengarai terjadi bagi muslim Uyghur di jazirah China sana benar-benar harus terjadi?

Sementara Deklarasi Hak Universal Hak Asasi Manusia menandaskan: “All Human beings are born FREE and EQUAL in DIGNITY and RIGHTS. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in spirits of BROTHERHOOD” (Universal Declaration of Human Rights Article 1). Menariknya, pembukaan UUD 1945 kita juga menegaskan: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Oleh sebab itu, dan demi upaya berkontribusi pada ekspresi dan perwujudan mendorong “terciptanya kedamaian dunia”, maka dalam menyikapi isu krisis kemanusiaan bagi muslim Uyghur di Xinjiang-China, kami menyerukan dan menyampaikan pandangan sikap sebagai

berikut:

1. Masyarakat Muslim Dunia adalah bagian dari kemanusiaan secara global dan seutuhnya. Kesatuan kemanusiaan secara utuh dan harmoni dalam berbagai rentang dimensi kehidupan, tempat dan zaman merupakan tanggungjawab masyarakat dunia (global citizens) secara kolektif, komunal dan kohabitatif.

2. Manusia adalah Ummat yang Satu. Ummat Islam adalah Ummat yang Satu. Dan Ummat Islam haruslah mempersatukan. Oleh sebab itu, Prinsip kesatuan (unity) merupakan sebuah filosofi dasar dan prinsip utama dalam mengatur ketertiban dan ketentraman di antara sesama manusia (ukhuwah insaniyah), di antara sesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan khususnya sesama umat muslim yang bersaudara (ukhuwah Islamiyah).

3. Menyampaikan permintaan kepada Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia agar menyerap aspirasi kaum muslimin Indonesia yang menyatakan kepedulian, kekhawatiran dan keingintahuan mengenai apa yang sebenarnya terjadi bagi etnis muslim Uyghur di China sana dan agar pemerintah secara diplomasi dan dengan politik luar negerinya yang bebas aktif ikut menyerukan dan mendorong upaya-upaya penyelesaian konflik dan resolusi terkait isu Uyghur ini secara khusus.

4. Menghimbau dan mengajak kepada segenap bangsa Indonesia untuk menyerukan aspirasi anakbangsa yang peduli pada krisis kemanusiaan yang tampaknya terjadi di Uyghur dan menyampaikan penolakan kita pada segala bentuk dan jenis penindasan, diskriminasi, perebutan hak-hak asasi manusia, hingga dugaan perbudakan-modern melalui forced labour apalagi cultural genoside yang ada.

5. Menyerukan dan mengingatkan kepada umat muslim Indonesia, wabil khusus terhadap segenap pemuda remaja muslim di negeri ini untuk senantiasa kembali berpegang teguh kepada Tali Agama Allah, menguatkan tali solidaritas persaudaraan, dan menyatukan misi perjuangan untuk mendukung berakhirnya krisis kemanusiaan yang ada, sebagai perwujudan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Penutup

Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama. Setapak dua tapak langkah awal telah kami, PP PRIMA DMI berikan dalam upaya menggugah kepedulian terhadap sesama, membangun awareness akan apa yang tengah terjadi dan MUNGKIN SAJA terjadi bagi setiap ummat muslim dimanapun berada, dan dalam perjuangan untuk menegakkan supremasi keadilan dan keadaban bagi kemanusiaan.

Bangsa Indonesia hidup dengan falsafah PANCASILA, dan setelah sila fundamental “KETUHANAN YANG MAHA ESA”, dengan nyawa dan jiwa berketuhanan tersebut, bangsa ini kemudian memilih sila “KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB” sebagai sila berikutnya – mendahului sila “PERSATUAN INDONESIA”. Ada spirit universalisme ketuhanan (yang menciptakan anak manusia berbangsa-bangsa) pun juga spirit membumikan peri kehidupan kemanusiaan (pan-humanisme) yang berhak diperlakukan secara ADIL dan BERADAB. Mempertimbangkan fakta pemberitaan dan laporan dari berbagai pihak mengenai kamp-kamp bertajuk deradikalisasi ataupun pelatihan vokasi, apakah potret yang disajikan menunjukkan adanya perlakuan yang ADIL dan BERADAB?

Kita tidak akan diam, dan akan terus menyuarakan aspirasi ini. Karena tidak hanya sensitivitas kemanusiaan kita sedang diuji, tidak hanya kualitas keyakinan keimanan (umat beragama) kita sedang ditantang, tetapi ini adalah sebuah pertaruhan yang lebih besar: apakah ini genderang permusuhan yang ditabur dan akan dituai oleh Komunisme yang ANTI-TUHAN?

 24 total views,  3 views today